Hajisiana (Sinhat)--Subahanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Kata suci inilah yang niscaya akan keluar jika kita membaca buku Biro Perjalanan Haji di Indonesia Masa Kolonial: Agen Herklots dan Firma Alsegoff & co, Arsip Nasional Republik Indonesia, 2001. Kata suci inilah sebagai ungkapan rasa takzim kepada pemerintah sekarang dengan sangat memanusiakan jemaah haji, dengan memberikan predikat tinggi kepadanya sebagai duyufurrrahman, dengan merendahkan diri pemerintah sebagai khadamat atau pelayan baginya. Tidakkah kita bersyukur dengan hal itu semua? Pantaskah kita memberikan kritik berlebihan kepada pemerintah ketika terjadi kekurangan penyelenggaraan haji pasca era tak bernurani itu? Hanya Anda yang dapat menjawabnya, ketika Anda selesai membaca buku tersebut.

Arsip perjalanan haji sejak abad 19 dan awal abad 20 menunjukkan bahwa jemaah haji banyak dirugikan sebagai akibat upaya monopoli, kesederhanaan berfikir calon jemaah haji, lemahnya pengetahuan tentang situasi negeri asing. Liku-liku monopoli yang berakibat pada keharusan membayar biaya lebih mahal, kepercayaan berlebihan pada makelar perjalanan haji (pilgrim broker) serta rendahnya pengetahuan tentang negara tujuan haji, bukan saja menjadikan banyak jemaah haji terjebak dalam hidup perbudakan/menjadi kuli kontrak atau bahkan tertipu sehingga menggunakan gelar haji yang diberikan oleh agen perjalanan haji tanpa menyadari bahwa calon haji yang bersangkutan belu sampai ke Makkah.

Fluktuasi peminat haji terus menerus meningkat setiap tahunnya. Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda membuka kebijaksanaan membolehkan pihak-pihak swasta turut mensukseskan usaha ini. Tetapi uluran tangan pemerintah kolonial menjadi bumerang bagi dirinya. Beberapa oknum baik pribumi, indo eropa ataupun arab dan keturunannya berbondong-bondong mendirikan biro/firma pemberangkatan–pemulangan jemaah dari Hindia Belanda ke Makkah atau sebaliknya. Munculnya berbagai biro swasta turut melaksanakan perjalanan perjalanan haji ini justru dijadikan kedok mengeruk keuntungan dibalik misi suci yang selalu diserukan tanpa memperhatikan keselamatan haji. Ini yang banyak dilupakan orang sekarang, lupa bagaimana bisnis biro haji pertama yang dilakukan oleh agen herllots dan firma alsegoff&co yang hanya mencari keuntungan dan tak perduli pada jemaahnya sejak 1893an.

Ini juga yang banyak dilupakan orang, ketika haji dikelola oleh pemerintah kerap dihujat atas sedikit kekurangan dan parahnya muncul keinginan untuk kembali ditangani kembali kepada swasta. Kembali ke abad 19, kembali ke tahun 1983an ketika Agen Herkllots dan Firma Alsegoff & co melakoni bisnis biro swasta perjalanan haji. (ar/ar)


Scroll to Top