Hajisiana (Sinhat)--Mungkin hanya sedikit orang yang tahu di era sekarang bagaimana kepemimpinan tokoh dan ulama dalam memimpin Kementerian Agama (Kemenag) pasca pembentukan Kemenag 3 Januari 1946 melalui ketetapan NO.1/S.D. Pembentukan kementerian ini penuh perjuangan. Pada waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melangsungkan sidang pada 19 Agustus 1945 untuk membicarakan pembentukan kementerian/departemen, dan akhirnya pada 3 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan ketetapan NO.1/S.D dan memutuskan membentuk Kemenag (Departemen Agama).

Ini sebagai cita-cita luhur tokoh dan ulama agar segala persoalan agama dapat diselesaikan dan menjadi tugas pokok dan fungsi Kementerian yang berplatform Ikhlas Beramal ini. Agar bangsa ini menjadi bangsa yang saleh pribadi dan sosial. Pemimpin Kemenag saat itu tidak hidup bermewah-mewahan. Sederet pejabat justru berlomba-lomba memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa. Salah satunya KH Saifuddin Zuhri yang dikenal sebagai pejuang, pemuka agama sekaligus pendidik terkemuka.

Tidak banyak yang tahu Saifuddin Zuhri sebelum menjadi Menteri Agama pernah tidak makan dan menahan laparnya saat beliau memegang dana umat. Tidak sedikitpun disentuhnya dana itu, karena dia tahu bahwa itu bukan haknya. Dan saat menjadi menteri pun beliau bertahun-tahun berdagang beras di Glodok tanpa diketahui oleh keluarganya. Sampai akhirnya salah satu anaknya mengelus dada karena ayahnya ketahuan berdagang beras di Pasar Glodok. Memang sejak kecil Saifuddin telah diajarkan hidup bersahaja dalam kesederhanaan. Bagaimana tidak, ibunya hanya seorang perajin batik sedang bapaknya seorang petani.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pribahasa ini berlaku pada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang sekarang ini menjadi Menteri Agama pada Kabinet Kerja. Hasil survei Indo Barometer yang disampaikan ke publik di Jakarta (08/10/2015) mencatat tingkat kepuasan publik atas kinerja Lukman tertinggi keempat (44.4%) setelah Menteri Kelautan dan Perikanan (71.9%), Mendikbud Anies Baswedan (54.2%), Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (47.8%).

Survey ini bukan tanpa dasar, Lukman berhasil meningkatkan kinerja Kementerian yang dipimpinnya dengan membangun inovasi baru untuk memberikan pelayanan kepada umat. Dengan mengusung lima budaya kerja, dia berhasil mendongkrak kepercayaan umat. Program ini meliputi lima nilai kerja: Integritas, profesional, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan.

Berderet capaian dan penghargaan yang berhasil diraih Kemenag sejak Lukman memimpin. Penghargaan pertama diberikan oleh pemerintah atas keberhasilan Kemenag menyusun dan menyajikan laporan keuangan 2014 dengan capaian standard tertinggi dalam akuntansi dan laporan keuangan pemerintah. Kedua, penghargaan dari Kementerian Keuangan, berupa juara kedua Serifikasi Barang dan Jasa untuk kelompok Kementerian dan Lembaga dengan jumlah nilai kepuasan pengguna barang lebih dari 100 satuan kerja. Ketiga, penghargaan akuntabilitas kinerja dari Menpan dan RB berupa predikat nilai B untuk penilaian akuntabilitas kinerja Kemenag tahun 2014. Keempat, penghargaan e-PUPNS dalam hal pelaporan PUPNS.

Tak teritinggal capaian yang diperoleh dalam penyelenggaraan haji dan umrah yang merakyat. Dalam haji, Lukman justru menorehkan sejarah baru dalam perhajian Indonesia. Sejarah panjang penyelenggaraan haji nusantara setidaknya sejak tahun 1893 dimana Herklots dan Firma Alsegoff & co menorehkan sejarah kelam haji. Setelahnya perbaikan haji secara terus-menerus dilakukan dan tetap meninggalkan catatan kritisi pada tiga aspek penyelenggaraan (pemondokan, katering dan penerbangan) yang tidak pernah selesai. Hingga akhirnya persoalan besar itu dapat diselesaikan pada musim haji 2015. Semua ini terwujud karena koordinasi dan kemauan yang kuat. Kurang lebih 122 tahun (1893-2015) hal ini dinantikan dalam geliat pelaksanaan penyelenggaraan haji berciri kelembagaan. Hasil survei BPS, tingkat kepuasan jamaah haji Indonesia terhadap layanan yang diberikan meningkat. Survei tahun lalu menunjukan angka kepuasan jemaah rata-rata 81,00. Ada peningkatan menjadi 82,60. Keberhasilan ini merupakan keberhasilan bersama, keberhasilan bangsa Indonesia untuk bangkit dan bersama meningkatkan penyelenggaraan haji setiap tahunnya.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji. Ini merupakan momentum dan semangat baru, memperlihatkan eksistensi penyelenggaraan haji berpihak kepada rakyat. Mandatnya jelas dengan membentuk sebuah badan yang melakukan pengelolaan dana haji. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) ini bertujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji, efesien sekaligus rasionalitas terkait BPIH, dan memberikan kemaslahatan bagi umat. Tentu pengelolaannya mendedepankan prinsip syariah, kehati-hatian, manfaat, nirlaba, transparan, dan akuntabel.

Fokus Menyentuh Umrah. Tahap demi tahap peningkatan layanan penyelenggaraan haji dilakukan dan tahapan itu juga yang membentuk pola nyata penyelenggaraan dapat terukur atas kinerja dan perbaikan. Peningkatan ini bukan akhir, namun awal dari perbaikan pada dimensi lainnya, penyelenggaraan umrah. Persoalan penelantaran dan penipuan travel nakal kepada jemaah umrah muncul dan meningkat. Industri jasa ini dengan jumlah pangsa pasar sedikitnya 700 ribu jemaah umrah pertahun. Ini menjadi hal baru yang segera ditangani karena berkembang baik jumlah dan persoalannya berpotensi besar menyentuh pada perbuatan melawan hukum.

Setiap aktivitas yang menyentuh hajat hidup umat negara akan hadir untuk memberikan kepastian pelayanan dan perlindungan. Kemenag telah meluncurkan Gerakan 5 Pasti Umrah (29/06/2015) lalu dalam memberikan perlindungan dan kepastian layanan itu kepada jemaah umrah.

Juga pada pendidikan, Kemenag mengusung pendeklarasikan Hari Santri Nasional. Presiden Jokowi resmi mendeklarasikan Hari Santri Nasional itu yang akan diperingati setiap 22 Oktober. Penetapan Hari Santri dilakukan di Masjid Istiqlal, Jakarta dan disaksikan ribuan santri dari berbagai daerah, para alim ulama, dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah.

Sama halnya dengan pencetusan program 5000 doktor. Lukman Hakim Saifuddin melepas 150 penerima beasiswa Program 5.000 Doktor Kemenag 2015 untuk menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Program ini akan dilakukan bertahap dan berkelanjutan, ada juga program pemberian bantuan biaya pendidikan untuk jenjang S2 dalam negeri dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Dan, masih banyak lagi capaian kinerja Kemenag yang bersifat fondamen dan permanen untuk mencapai saleh pribadi dan sosial. (ar/ar)


Scroll to Top