Hajisiana (Sinhat)--“Bapak kok mirip Menteri Agama ya? Beliau satu kampung dengan saya di Purwokerto.” Seorang jemaah haji Indonesia tiba-tiba berseloroh seketika melihat Lukman Hakim Saifuddin bersama sekretarisnya Khoirul Huda Basyir salat magrib di halaman Masjidil Haram, tepatnya di arah bagian depan Zam Zam Tower.

Kepada Media Center Haji (MCH) Arab Saudi, Rabu (16/09), Khoirul berkisah tentang pengalaman menarik yang didapatinya saat menemani Menteri Agama yang juga mantan petugas haji tahun 1991 itu. “Minggu (13/09), saya menemani Pak Lukman salat magrib di Haram. Saat itu, kami sampai di Masjidil Haram sekitar 17.15 waktu Arab Saudi (WAS). Agak terlambat memang, hingga halaman Masjidil Haram saja sudah sangat penuh. Kami pun harus berdesakan hingga beroleh tempat di sekitar halaman Zamzam Tower,” kisah Khoirul.

Jelang Magrib, Khoirul bersama Lukman menyatu dalam lautan jutaan orang yang ingin menghamba pada Tuhan Yang Esa, asyik-masyuk dalam zikir dan doa. Kesadaran diri dibawa pada relung terdalam hingga kemudian tersadar oleh sebuah tanya yang datang dari jemaah haji Indonesia di sisi kanan Pak Lukman. “Bapak dari Indonesia ya? Asli mana Pak? Kok wajah Bapak persis banget sama Menteri Agama ya?” tanyanya bertubi, tidak memberi kesempatan pada yang ditanya untuk segera menjawabnya.

“Menteri Agama sekarang itu berasal dari kampung saya, dari Purwokerto. Bapak kok wajahnya persis banget ya? Kalau ada acara Aspal di televisi, Bapak ikut saja, pasti menang!” katanya lagi.

Lukman yang saat itu mengenakan kain sarung dan baju koko putih, dipadu songkok kain yang juga berwarna putih hanya tersenyum. Bukannya menjawab, Lukman justru balik bertanya: “Beberapa orang bilang kalau saya memang mirip Menteri Agama. Tapi saya sendiri tidak tahu mirip apanya?” ujar Lukman.

“Suaranya juga mirip Pak. Saya soalnya sering mendengar Menteri Agama bicara di televisi. Pokoknya kalau Bapak ikut acara Aspal di televisi, menang lah!” katanya lagi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar…. Azan Magrib berkumandang. Semua jemaah yang hadir bersiap untuk tunaikan kewajiban, menghamba pada Yang Maha Rahman. Usai iqamat, Pak Lukman, Khoirul Huda, dan jutaan jemaah lainnya berbaris rapih, membentuk shaf dalam kesamaan derajat, melaksanaan Salat Magrib. Usai salat, mereka saling bersalaman, berzikir sejenak, dan terus pulang.

“Satu…dua..tiga..sampai sepuluh langkah ke depan, saya perhatikan jemaah tadi sangat penasaran kenapa orang berbaju putih yang baru diajak berbincang dengannya itu sangat mirip dengan Menteri Agama Lukman?” kata Khoirul.

“Ya…rasanya Bapak itu belum sepenuhnya sadar bahwa Lukman yang diajaknya bicara adalah Lukman yang sekarang Menteri Agama,” katanya lagi.

Menurut Khoirul, mungkin Bapak itu bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang yang salat di pelataran Masjidil Haram sendiri, tanpa dikawal, serta ikut berdesakan dan berbaur bersama dirinya adalah seorang Menteri Agama?

Selang dua hari, kisah yang hampir sama terulang. Selasa (15/09) sore itu, Khoirul yang kembali mendampingi Lukman rapat di Kantor Muassasah Asia Tenggara, membahas penyelenggaraan ibadah haji 2015, mendapat pesan bahwa sang menteri ingin langsung ke Masjidil Haram untuk Magrib berjemaah. Kali ini mereka berdua lebih sore sampai di sana, tepatnya pukul 17.30 WAS. Masjidil Haram pun lebih penuh dari sebelumnya, apalagi menjelang hari H pelaksanaan wukuf.

Dua anak manusia ini pun berlomba bersama jutaan umat lainnya untuk bisa mendapat tempat yang nyaman bagi pelaksanaan ibadahnya. Sayang, Masjidil Haram demikian penuh hingga tidak mudah untuk mencari ruang kosong untuk sekedar menggelar sajadah.

Kalbunya terasa demikian merindu, hingga Lukman meminta untuk menyusuri perjalanan waktu di Masjidil Haram hingga waktu Magrib berlalu. Seiring jemaah pulang selepas Magrib berjemaah, Lukman dan Khoirul justru masuk ke dalam, menunggu hilangnya mega merah yang disusul datangnya waktu Isya berjemaah.

Selepas Isya, Lukman mengajak Khoirul keluar masjid dari pintu Malik Abdul Aziz, lalu menyusuri jalan halaman menuju Zamzam Tower. Keduanya nampak menikmati malam sembari memperhatikan lalu lalang ribuan orang. Tak lama duduk di kawasan depan Zamzam Tower, sembari menunggu jemputan, dua orang jemaah Indonesia mendekat dalam wajah yang tampak pucat dan kebingungan. Dilihat dari postur dan usiannya, Khoirul mengira kalau kedua orang itu adalah bapak dan anaknya. Mengaku berasal dari Bone Sulawesi, sang Bapak mau pulang ke pemondokan, namun kesasar dan tidak tahu ke mana arah jalan pulang.

Sejenak Lukman berkoordinasi dengan petugas haji agar bisa segera datang di tempat di mana dia sedang berdiri. Sementara sang Bapak yang sedang bingung, matanya selalu tertuju ke arah Lukman dengan penuh perhatian.

Kepada Khoirul, bapak itu bertanya, “Mas, kok Bapak yang berbaju putih itu mirip banget dengan Menteri Agama ya?” Khoirul pun mengaku tidak memberikan jawaban seketika. Dirasainya keraguan yang mendera sang Bapak hingga dia mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya.

“Bapak kok mirip banget dengan Menteri Agama ya?” Tanya Bapak itu kepada Lukman. Yang ditanya hanya tersenyum, bukannya menjawab, tapi justru balik bertanya, “Mirip apanya Pak?”

Kata si Bapak, “Banyak miripnya. Gantengnya mirip, tingginya mirip, suaranya juga mirip. Bapak saudara kembarnya ya? Tapi apa Pak Menteri punya saudara kembar?”

Lukman hanya tersenyum sembari menjabat tangan si Bapak. Mobil jemputannya sudah datang, menambah bingung sang Bapak, kenapa orang yang diajak bicara ini dijemput mobil kedutaan.

Memberi kenangan, Lukman mengajak foto bersama, menggunakan handphone pria paruh baya asal Bone itu. “Bapak di sini saja. Sebentar lagi petugas sektor khusus datang untuk mengantar Bapak. Sesampai di pemondokan, mungkin Bapak bisa bercerita kalau baru bertemu denga orang yang sangat mirip Menteri Agama,” kata Lukman sambil tersenyum. (mkd/mch/ar)


Scroll to Top