Setiap orang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah, untuk menyempurnakan rukun Islamnya. Ibadah haji merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam yang mampu secara jasmani, rohani, finansial, dan keamanan. Ajaran haji juga sebagai pertanda, bahwa syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. bukan agama baru, melainkan kelanjutan dari syariatnya Nabiyullah Ibrahim as. Dalam QS. al-Hajj ayat 27, Allah menginformasikan tentang perintah-Nya kepada nabi Ibrahim, untuk memanggil semua manusia agar melaksanakan ibadah haji ke baitullah, baik dengan jalan kaki atau naik unta.

Banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah haji. Diantaranya adalah tentang perintah untuk menyempurnakan haji dan umrah lillah (karena Allah), bukan karena yang lain. Ini adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan oleh al-Qur’an dengan redaksi fi’il amar dan diiringi perintah motivasi lillah (wa atimmul hajja wal umrata lillah). Ini memberi isyarat, bahwa ibadah haji dan umrah memiliki sisi niat yang rentan menyeleweng dari tujuan aslinya. Bisa karena riya’ (pamer), takabbur (sombong), ‘ujub (heran dengan amal sendiri) atau karena hanya ingin dipanggil pak haji atau bu hajjah. Sehingga menjaga niat selama melakukan ibadah haji dan umrah, dan sepulang dari ibadah, menjadi penting untuk dilaksanakan. Niat lillah artinya melaksanakan ibadah haji dan umrah karena melaksanakan perintah Allah dan menjalankan serta mengikuti syari’at Rasulullah saw.

Kemudian kain ihram yang dipakai oleh laki-laki, yakni dua helai kain (handuk) yang berwarna putih dan tidak berjahit. Bahwa sebuah bahan kain akan menjadi bagus ketika dipakai, bila dijahit. Semahal apapun kain, jika tidak dijahit sesuai dengan struktur tubuh pemakainya, maka tidak akan ada nilainya. Ini memberi gambaran kepada umat Islam, bahwa orang yang datang ke baitullah harus melepas segala atribut sosial, ekonomi, politik yang melekat pada dirinya, yang sering menimbulkan kesombongan dalam diri seseorang. Tidak ada yang patut sombong, kecuali Allah rabbul ‘alamin, pencipta alam semesta. Manusia tidak ada yang patut sombong dengan segala keterbatasannya.
Kemudian warna putih menunjukkan kesucian, dan bila ada kotoran yang menempel, niscaya akan terlihat. Begitu pula dengan amal manusia. Sekecil apapun amal yang telah diperbuat di dunia, akan nampak di hadapan Allah swt. Tidak ada sesuatu pun yang tertinggal atau tidak terdeteksi oleh Allah swt. yang Maha Waspada. Jika melakukan amal baik, maka akan dibalas dengan kebaiakan/ pahala. Jika melakukan amal jelek, melanggar syari’at, maka akan dibalas dengan kejelekan/ siksa pula. Karenanya, manusia harus hati-hati dalam menjalani kehidupannya.

Thawaf atau mengelilingi ka’bah tujuh kali, mengisyaratkan tentang perputaran kehidupan manusia yang terus berjalan, dengan berbagai intrik permasalahan di dalamnya. Hari terus berputar mejadi bulan. Bulan terus berjalan menjadi tahun, dan begitu seterusnya.
Namun, manusia tidak selamanya thawaf. Karena suatu saat kehidupan ini akan wuquf alias berhenti, dengan adanya kematian ataupun kiamat. Saat wuquf di Arafah, jamaah haji laksana berada pada miniatur padang mahsyar / tempat berkumpulnya semua makhluk manusia, untuk dihisab/ hitung amal perbuatannya dan dibalas sesuai dengan amalnya. Arafah berarti mengetahui. Bahwa Allah swt Maha Mengetahui semua amal perbuatan manusia. Allah tidak mungkin menzholimi hamba-Nya. Apa yang akan diberikan Allah kepada manusia sesuai dengan apa yang diperbuat saat di dunia.

Sa’i atau lari-lari kecil dari bukit shafa menuju marwa sebanyak tujuh kali, tidak terlepas dari kisah perjuangan istri nabi Ibrahim, sayyidah Hajar yang mencari sumber mata air untuk putranya, Isma’il. Setelah tujuh kali berusaha mencari dari shafa ke marwa, akhirnya Allah mengabulkan doanya, dengan munculnya sumber air zamzam. Ini memberi pelajaran kepada umat Islam, bahwa untuk meraih sebuah cita-cita, seeorang harus berusaha, berikhtiyar, berjuang semaksimal mungkin, dengan dibarengi rasa tawakkal kepada Allah swt. sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka mau merubahnya sendiri. (QS. ar-ra’d : 11). Setelah menyempurnakan ikhtiyar, seseorang hendaknya bertawakkal atau memasrahkan urusannya kepada Allah swt. siapa yang memasrahkan urusannya kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya (QS. Al-Thalaq : 3).

Lempar jumrah atau batu di Mina tidak terlepas dari kisah Nabiyullah Ibrahim as. digoda setan saat akan menjalankan perintah Allah swt., berupa menyembelih putranya, Isma’il as. lalu nabi Ibrahim melempar setan dengan batu, sebagai pertanda permusuhan yang abadi antara manusia dan setan. Begitulah idealnya, umat Islam harus mampu menempatkan posisi Allah dan setan. Allah sebagai Dzat Pencipta dan yang disembah, yang dijalankan perintah-Nya, dan dijauhi larangan-Nya. Sedang setan dikonotasikan sebagai segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan yang ada di atas muka bumi ini, yang harus dijauhi dan ditinggalkan, karena sesat dan menyesatkan. Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan. Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia dari-Nya.(QS. al-Baqarah : 268)

Ibadah haji juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran kepada umat Islam. Karena dalam proses perjalanan ibadah haji dari awal pendaftaran, yang harus antri puluhan tahun, hingga akhir thawaf wada’, membutuhkan perjuangan yang disertai dengan kesabaran. Dan orang yang sabar akan selalu ditemani Allah swt. dalam setiap langkahnya.

Semoga Allah memampukan siapa saja yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah, yang selanjutnya dapat mengimplementasikan nilai-nilai spiritualitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.


Scroll to Top