Sekjen : Penyelenggaraan Haji Sukses, 50 Persen Tupoksi Kemenag Selesai

Ditulis oleh anggoro husni pada Minggu, 30 April, 2017

Jakarta (Sinhat)-- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam mengatakan apabila seluruh rangkaian penyelenggaraan haji sukses maka 50 persen tugas, pokok dan fungsi Kementerian Agama telah selesai dilaksanakan. Demikian dikatakannya dihadapan para peserta saat penutupan Mudzakarah Perhajian Nasional Indonesia di Jakarta. Minggu (30/04/2017).

Menurutnya, karena haji adalah marwahnya Kementerian Agama, begitu banyaknya orang yang terus mengamati dan begitu banyaknya orang yang terus memelototi terhadap penyelenggaraan ibadah haji ini. inilah yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agama untuk semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji ini.

“Haji adalah marwahnya Kemenag dan yang mengamati penyelenggaraan haji ini banyak, dan ini adalah menjadi tanggung jawab kita,” kata Nur Syam

Mudzakarah ini kata Nur Syam menjadi salah satu momentum yang sangat sangat baik untuk mendiskusikan atau merkontruksi masalah-masalah yang terkait dengan penyelenggaraan haji, ada beberapa hal yang terkait dengan pendapat-pendapat atau dasar-dasar untuk disikusikan dalam Mudzakarah ini.

“Mudzakarah menjadi salah satu momentum yang sangat sangat baik untuk mendiskusikan atau merkontruksi masalah-masalah yang terkait dengan penyelenggaraan haji,” tutur Mantan Dirjen Pendis ini.

Makna Muzdakarah ini sekali lagi adalah peluang bagi pemangku kepentingan terkait untuk mendiskusikan dan bertukar pikiran terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji ini dan serasa menjadi penting karena Muzakaroh ini lebih terfokus kepada yang terkait dengan para perempuan yang ingin menunaikan ibadah haji atau umrah.

Terkait dengan haji calon haji perempuan lanjutnya, calon haji wanita menjadi menjadi sangat penting dan seperti diketahui bahwa tentu banyak variasi pandangan, pendapat, dan pemikiran para ulama ulama masa lalu tentang tata cara pelaksanaan penyelenggaraan haji bagi kaum perempuan itu tentu harus di pilih mana yang kira-kira memiliki relevansi dengan dunia sekarang ini, sebab bisa dipahami bahwa jumlah haji tentu berbeda konteksnya dengan sekarang.

“Karena banyak hal yang perlu didiskusikan mengenai wanita berhaji ini,” tutupnya. (ha/ha)


Scroll to Top