Tim Katering Mulai Seleksi Calon Penyedia Katering di Arab Saudi

Ditulis oleh anggoro husni pada Kamis, 16 Maret, 2017

Jakarta (Kemenag) --- Proses penyediaan katering bagi calon jemaah haji Indonesia di Arab Saudi sudah mulai berjalan. Sejak tanggal 13 Maret 2017, Tim Penyediaan Konsumsi Jemaah Haji Indonesia Di Arab Saudi (Tim Katering) sudah mulai menerima berkas penawaran.

"Penyerahan berkas penawaran berlangsung dari 13 - 19 Maret. Sampai dengan hari ini, sudah ada 13 perusahaan yang menyerahkan penawaran," terang Ketua Tim Katering Arsyad Hidayat melalui sambungan telepon, Rabu (15/03/2017).

Menurut Arsyad, berdasarkan data penawaran perusahaan yang masuk, Tim Katering rencananya akan mulai melakukan peninjauan ke lapangan (kasfiyah) pada 18 Maret 2017. Namun demikian, peninjauan lapangan hanya dilakukan ke dapur-dapur katering yang lolos seleksi berkas administrasi.

"Kita akan merekrut dapur-dapur yang berprestasi pada musim haji tahun lalu dengan sistem repeat order. Teknisnya, dapur-dapur tersebut akan mendapat nilai tambah berdasarkan kinerja yang mereka lakukan pada tahum sebelumnya," ujarnya.

Namun demikian, lanjut Arsyad, Tim Katering juga tetap akan membuka peluang bagi dapur-dapur baru yang dinilai memiliki kemampuan dan kualifikasi yang dipersyaratkan.

Ditanya soal tantangan, Arsyad mengaku bahwa tantangan Tim Katering tahun ini lebih berat. Sebab, kota haji tahun ini kembali normal, setelah empat tahun mengalami pemotongan 20%. Kuota normal Indonesia adalah 211ribu. Angka ini bahkan bertambah seiring adanya tambahan kuota untuk Indonesia sebesar 10ribu.

Tantangan lainnya, kata Arsyad adalah terkait adanya tambahan makan bagi jemaah haji selama di Makkah sebanyak 2 kali. "Kalau pada tahun 2016, jemaah mendapat 24 kali makan di Makkah, tahun ini menjadi 26 kali," katanya.

Di samping itu, jemaah selama di Makkah juga akan mendapat makanan ringan untuk sarapan pagi berupa cupcake atau croissant tanpa adanya tambahan biaya. "Dengan begitu, jemaah di Makkah akan mendapat sarapan berupa cupcake, disamping makan siang dan malam," ujarnya.

Tim Katering juga harus mengevaluasi menu-menu yang cepat rusak pada penyelenggaraan haji tahun lalu karena kondisi panas, misalnya: menu sayuran bamia atau okra dan udang kering. Menu-menu yang seperti ini harus diganti dengan menu baru yang lebih tahan dan tidak mudah rusak.

"Tim juga harus memastikan kemampuan perusahaan untuk menyediakan makanan dengan cita rasa Indonesia, termasuk menambah tenaga distribusi katering yang bisa berbahasa Indonesia," terang Arsyad.

"Tim juga akan mencari alternatif menu lain yang asli Indonesia, seperti tahu dan tempe," tambah mantan Kadaker Makkah tahun 2016 lalu ini.

Kementerian Agama telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 9 Tahun 2016 tentang Penyediaan Barang/Jasa dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji di Arab Saudi. PMA ini mengatur bahwa penyediaan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia terdiri dari konsumsi di Madinah, Jeddah, Makkah, serta Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina).

"Tim Katering telah tiba di Arab Saudi sejak tanggal 8 Maret dan akan bertugas selama 60 hari untuk menyeleksi perusahaan penyedia katering, baik di Madinah, Jeddah, Makkah, dan Armina," tandasnya. (mkd/ha/ha)


Scroll to Top