Jakarta (PHU)---Nama Hajj Rescue Team (HRT) mungkin masih asing bagi sebagian masyarakat. Bahkan pegawai Kementerian Agama di berbagai daerah juga tidak banyak yang memahaminya. Sebutan ini memang secara tidak formal disematkan kepada para petugas yang dibentuk oleh Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah untuk pegawai yang ditugaskan memberikan ‘pelayanan khusus’ kepada jemaah haji sakit pasca operasional haji.

 

Berawal dari keinginan sebagian anggota tim untuk menyebutkan identitas mereka, lahir nama HRT dalam diskusi kecil sepulang pelayanan pemulangan jemaah haji sakit. Di awal tahun 2016 melekatlah nama HRT pada beberapa kaos seragam yang mereka beli dari patungan. Keberadaan HRT pun akhirnya menjadi populer bagi sebagian besar pegawai Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah melalui kiprah para anggotanya dalam setiap pelayanan.

 

Pegawai yang masuk sebagai anggota tim HRT harus siap kerja tanpa batasan waktu yang jelas. Layaknya petugas haji di Arab Saudi, setiap saat dibutuhkan memberikan pelayanan kepada jemaah haji, semua harus siap. Anggota HRT biasa bekerja di luar jam kerja dan hari libur. Setiap ada informasi pemulangan jemaah haji sakit dari Arab Saudi, semua petugas merancang penerimaan di bandara Soekarno Hatta sesuai kondisi jemaah haji.

 

Anggota HRT akan berkoordinasi dengan petugas Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) Jeddah untuk mengetahui kondisi jemaah haji. Bisa jadi jemaah yang dipulangkan dalam kondisi berbaring dengan peralatan medis tertentu. Dengan kondisi seperti itu para anggota HRT akan melaporkan keadaan jemaah kepada petugas Klinik Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta.

 

Sebagai persiapan anggota HRT juga akan melihat ketersediaan tiket ke daerah jemaah haji, termasuk memesan stetcher apabila jemaah tidak bisa diterbangkan dalam kondisi duduk. Namun bila jemaah harus dirawat, maka para petugas HRT akan berkoordinasi dengan Rumah Sakit Haji (RSHJ) Pondok Gede untuk memesan ruang perawatan dan menyiapkan ambulan.

 

Pemulangan jemaah haji setiba di Bandara Soekarno Hatta, menunggu hasil pemeriksaan dokter KKP. Bila kondisi memungkinkan untuk dilanjutkan ke penerbangan berikutnya, jemaah akan langsung dipulangkan ke daerah asal. Namun bila kondisi jemaah tidak memungkinkan melanjutkan penerbangan maka jemaah akan menerima perawatan lanjutan di RSHJ Pondok Gede sampai dengan kondisinya membaik.

 

Selama dirawat di RSHJ, jemaah haji sakit akan dijenguk (program visitasi) oleh petugas HRT secara berkala. Mereka akan berkoordinasi dengan dokter yang merawat jemaah haji. Perkembangan kondisi jemaah haji terus dipantau oleh petugas HRT untuk memastikan waktu dan teknis pemulangan. Bahkan petugas juga harus siap  dengan teknis pemulangan jemaah yang wafat dalam perawatan di RSHJ.

 

Tidak semua jemaah haji sakit dapat dipulangkan dengan pesawat terbang ke daerah asal. Khusus untuk jemaah baring yang lebih efektif menggunakan perjalanan darat, maka jemaah haji akan dipulangkan dengan ambulan. Terutama untuk jemaah haji yang berasal dari wilayah mudah dijangkau dari Jakarta seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian Sumatera bagian timur atau selatan.

 

Bukan pekerjaan ringan untuk mengantarkan jemaah haji sakit melalui jalur darat. Pernah suatu ketika di tahun 2016 petugas HRT yang ditugaskan mengawal ambulan mengalami kerusakan mobil di tengah hutan jalur Kendal Temanggung tepat waktu tengah malam. Petugas HRT harus mencari mobil sewaan agar dapat tetap menjalankan tugas dan tiba di Temanggung untuk serah terima jemaah kepada keluarga.

 

Kondisi jemaah haji walaupun dinyatakan boleh pulang, juga tidak selalu dalam kondisi benar-benar ‘baik’. Tidak jarang petugas HRT harus rela terkena muntahan, air kencing, bahkan lebih dari itu, semua demi satu tugas, memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji. Semua jerih payah petugas akan terbayar bila jemaah haji tiba dengan selamat dan berkumpul kembali dengan keluarganya.

 

Di manapun daerah asal jemaah haji sakit, petugas HRT harus siap melayani pemulangannya sampai ke ujung negeri. Seperti apapun kondisi jemaah haji sakit, para petugas HRT akan siap memberikan pelayanan maksimal. Semua petugas ingin selalu berkhidmat kepada para tamu Allah, demi mendapatkan berkah dhuyufurrahman.  (ab/ab).


Scroll to Top