INFO

  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE DIREKTORAT PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH KEMENTERIAN AGAMA

Hajisiana (Sinhat)--“Kejar tayang, deadline, omelan pejabat, para redaktur, produser, sampai pontang-panting memburu narasumber. Pokoknya semua ngomel deh. Ngomel itu sudah biasa bagi kami, yang mengerikan itu jika tidak ada omelan.”

Sebuah tas ransel besar teronggok. Bukalah dan silakan terkagum-kagum ketika melongok ke dalamnya. Isinya amat lengkap: laptop, kamera, aneka lilitan kabel, hingga air minum. Masukkan semuanya dan rasakan beratnya yang minimal enam kilogram itu.

Itulah 'alat perang' Media Center Haji (MCH) Arab Saudi. Bak seorang serdadu yang siap bertempur, tim MCH harus berpikir dan bekerja cerdas demi memberikan informasi yang baik dan optimal pada masyarakat.
Ternyata, butuh trik sendiri untuk meliput di tengah masyarakat Arab Saudi terutama Makkah yang boleh dibilang alergi pada kamera misalnya. Maka, kisah rekan-rekan MCH yang dihadang oleh askar di Masjidil Haram gara-gara menggembol ransel besar berisi kamera kerap terdengar.

Mending jika hanya dilarang, mereka tak jarang juga diusir ketika siap-siap liputan. Maklum saja, biasanya mereka ketahuan lantaran mengarahkan moncong kamera ke Masjidil Haram, apalagi mengarah kepada Bait al atiq.

Menyerah? Oh, tentu tidak. Pantang pulang sebelum padam, eh maksudnya, sebelum dapat materi liputan. Caranya, dengan usaha curi-curi liputan. Jika terlihat ada petugas keamanan masjid yang siap meradang, kami pun telah menyiapkan senyuman termanis sebagai semiotik ungkapan bermaksud baik. Lagi pun senyum adalah simbol bahasa yang sangat bersahabat.

Jika askar mengomel-omel, anggap saja angin lalu. Enggak paham artinya juga, kan?
Hadangan askar dan petugas adalah satu hal. Hal lain adalah cuaca Saudi yang jauh dari bersahabat. Panas yang amat ekstrem, terpaan angin hangat, belum lagi gempuran pasir halus yang tak jarang membuat sesak napas dan mata sepet.

Sebagai bumbu pelengkap, kami disuguhi pula dengan pemandangan yang hanya berupa gedung-gedung kotak bertingkat, bukit-bukit batu, serta masyarakatnya yang terbiasa berbicara dengan nada keras sehingga terlihat seperti orang marah dan mengajak berkelahi. Berat memang. Namun, ya begitulah selamat datang di dunia kami, dunia Media Centre Haji: kejar tayang, deadline, omelan pejabat, para redaktur, produser, sampai pontang-panting memburu narasumber. Pokoknya semua ngomel deh. Ngomel itu sudah biasa bagi kami, yang mengerikan itu jika tidak ada omelan.

Maka, harap maklum saja, bila penampilan kami jauh dari kata menawan dan elegan. Memang, sehari-hari kami harus berseragam petugas serta mengenakan tanda pengenal agar terhindar dari razia atau penangkapan dari petugas kepolisaian Makkah karena dianggap pendatang tanpa izin.

Namun, penampilan rapi berseragam tak mampu mendongkrak barometer ganteng kami lantaran harus memanggul ransel yang super duper besar itu. Sepatu dari Tanah Air yang diperkirakan bisa membantu membuat nyaman malah lebih sering pasrah dengan nasibnya gara-gara kini berubah wujud menjadi sandal jepit lantaran terlalu sering diinjak di bagian belakang untuk memudahkan berwudhu.

Demi kejar-mengejar informasi itu juga, kami juga mesti beradaptasi dengan waktu istirahat paling lama hanya sekitar empat jam saja. Makan pun tak teratur. Meski makanan yang disiapkan lebih dari cukup, kami lebih sering tidak dapat mengonsumsinya dengan benar karena harus fokus menyampaikan informasi terbaru penyelenggaraan ibadah haji kepada masyarakat di Tanah Air. Kepala penuh dengan materi-materi informasi yang sesegera mungkin dibuat menjadi produk informasi, baik tulisan, suara dan gambar.

Namun, seolah jiwa dan raga ini telah terpanggil, kami ikhlas melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Kami pun amat yakin bahwa pemilik Bait al Aiq memberikan kekuatan tersendiri, melindungi dari berbagai hal, dan percaya diri akan baik-baik saja.

Meleburkan diri dengan jamaah haji seolah vitamin tersendiri untuk kebugaran fisik dan pikiran. Melayaninya dengan baik sebagai duyufurrahman merupakan fondasi yang kuat untuk dapat melakukan aktivitas di atas rata-rata dan sangat berbeda dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan keseharian di negeri sendiri.

Berawal dari ketulusan bekerja itulah, kami seolah mendapatkan kekuatan luar biasa. Ketika tulus melayani jamaah dengan memberikan informasi yang tepat dan berimbang, kami seolah mendapatkan penawar rindu. Rindu kepada keluarga dan rindu untuk mendapatkan kesempatan menjalankan ibadah haji berikutnya. Selamat bertugas MCH 2015 dan salam muhasabah. (ar/ar)


Scroll to Top