Dinkes Banten Minta Pembinaan Istita'ah Haji Dilakukan Lebih Awal

Ditulis oleh anggoro husni pada Kamis, 07 Desember, 2017

Serang (PHU)--Dinas Kesehatan Provinsi Banten meminta pembinaan istita'ah jemaah haji harus dilakukan lebih awal sebelum jemaah haji melakukan pelunasan dan diberangkatkan ke tanah suci. Demikian dikatakan Kepala Bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi. Banten Wahyu Santoso saat menjadi pembicara dalam Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1438H/2017M di Hotel Le Dian Serang Banten. Kamis (7/12).

"Waktunya kalau bisa 3 bulan sebelum pelunasan," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, Istita'ah haji ini merupakan kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental bukan hanya kemampuan finansial saja. Selain itu salah satu kegiatan penyelenggaraan kesehatan haji yang sangat penting dan strategis adalah serangkaian upaya kegiatan melalui program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji agar terpenuhinya kondisi istitha’ah kesehatan tersebut.

"Dan yang palin penting adalah terpenihinya program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji agar terpenuhinya kondisi istitha’ah kesehatan tersebut," ujar Wahyu.

Untuk memenuhi kriteria istithaah kesehatan, lanjut Wahyu adalah persiapan sejak dini di Tanah Air harus dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam mengantar jemaah haji sehat sejak di Indonesia, selama perjalanan, dan di Arab Saudi selama menjalankan ibadah haji.

Menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Kesehatan (Siskohatkes), sebanyak 55 s/d 56 % jemaah haji Indonesia adalah ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan masih tergolong rendah sampai menengah.

Hampir setiap tahun sekitar 60 s/d 67% dari total jemaah haji yang berangkat ke Tanah Suci, tergolong dalam kelompok Risiko Tinggi (Risti) yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan jemaah haji dalam menjalankan ibadahnya di Tanah Suci.

“Untuk Provinsi Banten jumlah Ristinya 6.122 jemaah atau sekitar 63,95 %,” ucapnya

Penyakit degeneratif, metabolik dan kronis masih mendominasi sebagai penyakit yang diderita oleh jemaah haji terutama jemaah haji dengan usia lanjut. Setiap tahunnya, jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi sebagian besar disebabkan oleh penyakit jantung, pernapasan, ginjal, metabolik,dan hipertensi. Namun demikian, dilain pihak.

“Ancaman penyakit-penyakit yang diperoleh di Arab Saudi (risiko eksternal) seperti heat stroke, MERS-CoV, Ebola, Zika dan meningitis merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, karena selain berpotensi sebagai wabah juga memiliki fatalitas yang tinggi,” jelas Wahyu

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Wahyu menjelaskan kedepannya perlu peningkatan kapasitas tim pemeriksaan dan pembinaan kesehatan di daerah, diadakannnya Kartu menuju haji sehat (KMHS), Mensosialisasikan Permenkes Nomor 15 tahun 2016 dan Permenkes Nomor 62 tahun 2016 kepada seluruh komponen termasuk organisasi profesi dan dokter spesialis serta ditambahnya jumlah petugas / komposisi TKHI dalam kloter.

“Jemaah harus mempunyai KMHS minimal 2 tahun sebelum keberangkatan dan jumlah petugas TKHI dalam kloter juga perlu dipertimbangkan,” pungkasnya.

Acara ini diikuti oleh staf dan pejabat dari Kab/Kota Kemenag se Provinsi Banten, Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan (FKKB) Provinsi Banten, serta dari Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Provinsi Banten.(ha/ha)


Scroll to Top