Ini Statistik Catatan Sekjen Terkait Penyelenggaraan Haji Tahun 2017

Ditulis oleh anggoro husni pada Selasa, 07 November, 2017

Jakarta (PHU)--Tahun 2017 ini, penyelenggaraan haji dapat dinyatakan tidak mengalami kendala yang berarti. Bukan berarti tidak ada masalah akan tetapi kadarnya tentu sangat kecil dan tidak berpengaruh terhadap penyelenggaraan haji secara umum.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam, Jemaah haji Indonesia tahun ini bertambah sebesar 221.000, maka dipastikan bahwa tingkat kerumitan penyelenggaraannya pastilah sangat besar. Apalagi jumlah petugasnya justru tidak seimbang atau tidak sebagaimana tahun lalu.

“Dari Kuota 221.000 pada tahun 2017, Kementerian Agama menerima jemaah haji sebanyak 203.065 orang dan petugas sebanyak 2.534 orang yang diterbangkan dengan 512 kloter,” kata Nur Syam. Saat menjadi pembicara dalam Rakernas Evaluasi Penyelenggara Ibadah Haji Tahun 1438H/2017M di Marlynn Park Hotel Jakarta. Senin malam (6/11/2017).

Untuk penerbangan, dari sejumlah 512 kloter tersebut, yang on time performance sebanyak 82,42 persen.

Dari segi gender, tahun ini jumlah jemaah haji perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Dengan persentase sebesar 55,62 persen perempuan dan 54,38 persen lelaki. Kemudian dilihat dari segi pendidikannya, terbanyak ialah lulusan SD/SMP sebesar 45,30 persen.

“Dari segi usia 51-60 tahun sebesar 34,78 persen dan lanjut usia sebesar 4,37 persen. “ ucap Nur Syam

Dalam pelayanan kesehatan, dari sejumlah Jemaah haji tersebut, yang tergolong resiko tinggi sebanyak 59 persen. dengan kategori antara lain usia 60 tahun dengan penyakit, di atas 60 tahun tanpa penyakit; dan di bawah 60 tahun dengan penyakit.

Akomodasi

Untuk pelayanan akomodasi khususnya di Madinah, Nur Syam mengatakan, Ditinjau dari sisi akomodasi di Madinah, maka dapat diketahui bahwa jarak terdekat adalah 10 M dan terjauh 1.200 M dari masjid Nabawi.

“Lama mereka berada di Madinah sebanyak 8,5 hari sehingga seluruh jemaah dapat melaksanakan arbain,” ujar Mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa keadaan Jemaah ada di dalam keamanan dan kenyamanan. Hal itu disebabkan karena fasilitas tenda yang cukup memadai. Memang ada beberapa tenda yang tidak tertutup rapat, tetapi secara umum tidak menjadi hambatan yang serius. Hanya saja yang menjadi masalah ialah ada banyak jemaah haji dengan visa furodah yang disisipkan di dalam jemaah haji Indonesia. Tentu saja kehadiran jemaah furodah ini bisa mengganggu terhadap ketersediaan fasilitas dasar seperti toilet, air dan sebagainya.

“Ada 6 (enam) maktab yang disisipi jemaah furodah ini. Tim haji sudah complaint ke Muassasah akan tetapi tidak memperoleh respon yang memadai,” jelas Nur Syam.

Katering

Dalam catatannya, untuk pelayanan catering, pihaknya menemukan kebakaran didapur catering, adanya keterlambatan penyediaan karena pasokan air kurang, dan juga kekurangan bahan baku, serta kurangnya tenaga masak dari Indonesia yang dipekerjakan oleh penyedia catering.

“Tenaga masak kebanyakan dari India, Pakistan dan sebagainya,” ungkap Nur Syam.

Transportasi

Kendala terkait dengan transportasi Jemaah haji adalah dari pemondokan ke Armuzna. Banyak jemaah haji yang diangkut dengan bis Hafil yang sangat tua, sehingga terkendala AC dan bahkan ada juga yang mogok.

Padahal sebenarnya di dalam perjanjian akan diberangkatkan dengan bis-bis yang sesuai standar dan telah upgrade, akan tetapi ternyata tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah Arab Saudi.

Untuk bis shalawat sudah semuanya on the track dan tidak ada masalah yang berarti. (ha/ha)


Scroll to Top