Menag Lukman : Layani Jemaah Haji dengan Rasa Cinta dan Penuh Kearifan

Ditulis oleh anggoro husni pada Jumat, 28 Juni, 2019

Jakarta (PHU) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali mengingatkan petugas haji agar senantiasa melayani jemaah haji dengan dilandasi rasa cinta dan penuh kearifan.

"Mari senantiasa tanamkan pada diri kita rasa cinta pada jemaah haji, karena mereka adalah tamu Allah yang sedang bertandang di rumahNya. Tugas kita adalah bagaimana agar mereka bisa menuntaskan rukun haji dengan sebaik-baiknya," ujar Menag di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (27/06).

Menag Lukman menegaskan bahwa rasa cinta harus senantiasa ada pada diri petugas haji. Jika tidak, maka yang ada adalah rasa beban.

"Hakekat petugas haji itu satu saja modalnya. Mulai Amirul hajj sampai semua petugas, modalnya satu, yakni ada kesadaran penuh bahwa kita sebagai petugas, kewajiban utamanya adalah melayani jemaah haji," imbuh Menag.

Menag berpesan agar petugas haji dapat melayani jemaah haji dalam makna yg seluas-luasnya.

"Artinya jangan pernah memposisikan petugas setara dengan jemaah apalagi merasa lebih berada di atas jrmaah, kita itu melayani tamu-tamu Allah," ujar Menag.

Petugas haji menurut Menag, hakekatnya adalah pelayan jemaah haji, pelayan bukan ada pada level terendah daripada yang dilayani.

"Kunci melayani adalah selain memiliki pemahaman bahwa yang kita layani adalah tamu-tamu Allah juga bagaimana agar layanan kita bisa optimum, apa pun bentuk layanan kita harus didasari dengan rasa cinta," imbuh Menag.

Menag menganologikan rasa cinta petugas haji pada jemaah haji seperti rasa cinta orang tua pada anaknya yang tulus dan tidak ada hitung-hitungan.

Selain rasa cinta, Menag juga berpesan agar petugas haji senantiasa mengedepankan kearifan dalam memberikan penjelasan pada jemaah.
"Kearifan hanya muncul jika kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang perhajian," ujar Menag.

Menag mencontohkan ketika menjelaskan mengenai tarwiyah, dikarenakan potensi negatif tarwiyah tidaklah kecil, terlebih pemerintah tidak memfasilitasi  jemaah yang ingin melaksanakan tarwiyah, Menag berpesan agar petugas khususnya petugas kloter dapat memastikan jaminan keselamatan jemaah yg ingin tarwiyah.

"Petugas kloter harus tahu dengan rinci, bagaimana pergerakan jemaah yang ingin tarwiyah, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana makanannya, tendanya di mana," kata Menag. 

Menag menegaskan bahwa petugas kloter harus tahu persis detail pergerakan jemaah di kloternya masing-masing agar fungsi dan keberadaan petugas kloter bisa dirasakan maknanya oleh para jemaah haji.(dk/ha)


Scroll to Top