Tanpa Pasport, Belasan Santri Hampir Dideportasi dari Saudi

Ditulis oleh Abdul Basyir pada Rabu, 31 Oktober, 2018

Jeddah (PHU)---Kantor Urusan Haji (KUH) Indonesia di Jeddah memiliki tugas pengawasan penyelenggaraan ibadah umrah, selain sebagai bagian dari penyelenggara ibadah haji Indonesia. Komitmen KUH dalam memberikan layanan terbaik kepada para tamu Allah baik Jemaah haji maupun umrah dapat terlihat dari rekam jejak KUH selama ini.

Belum lama ini Staf Teknis Haji (STH) II, Amin Handoyo, menceritakan proses pendampingan kasus 17 jemaah umrah, yang seluruhnya merupakan santri penghafal Al Qur’an, tertahan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Mereka masuk Arab Saudi tanpa identitas keimigrasian.

Menurut Amin, kejadian ini berawal dari perjalanan ibadah umrah santri dan pembimbingnya dari Indonesia menuju ke Arab Saudi dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur Malaysia. Saat akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah 17 pasport mereka tertinggal di bandara Internasional Kuala Lumpur.

“Kami langsung ke bandara dan bertemu dengan Wakil Manajer Imigrasi Bandara Jeddah. Dari 25 orang Jemaah umrah 17 orang yang passport-nya ketinggalan, padahal 15 diantaranya merupakan anak yatim yang usianya 7-8 tahun. Mereka terancam dideportasi,” terang Amin Handoyo melalui pesan singkat dari Jeddah, Selasa (30/10/2018).

Amin bersama Tim Divisi Umrah KUH Jeddah bernegosiasi dengan Imigrasi Bandara Jeddah. Kesepakatan akhirnya didapat. 17 Jemaah yang sebagian besar anak yatim ini diizinkan masuk Arab Saudi dengan penjaminan dari pihak KJRI.

“Alhamdulillah mereka dapat beribadah dengan jaminan surat keterangan dari Konsulat Jenderal RI Jeddah. Tentu dokumen yang tertinggal harus segera kami serahkan,” imbuh Amin.

Dokumen yang tertinggal di bandara Kuala Lumpur akan dititipkan oleh maskapai pengangkut Jemaah umrah tersebut. Bila ternyata passport tidak ditemukan KJRI juga telah bersedia membuatkan Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) bagi para santri tahfidzul qur’an ini.

“Beruntung mereka memiliki ID Card yang mencantumkan nama dan nomer passport, sehingga pihak imigrasi bandara bisa memproses pencetakan visa dan pengambilan data biometric,” kata Amin yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Dokumen Haji di Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Beberapa hari berikutnya, Pihak imigrasi memberitahukan bahwa passport milik 17 jemaah tersebut tiba di Jeddah. Mengetahui Jemaah umrah ini anak yatim dan penghafal Al Qur’an rupanya pihak imigrasi Jeddah sangat bersimpati.

Amin mengisahkan para santri ini diminta para petugas imigrasi menghafalkan beberapa ayat Al Qur’an di hadapan mereka. Diantara dari mereka bahkan ada yang memberi makanan dan uang saku.

“Sangat terlihat sisi humanis orang Arab Saudi. Mereka sangat peduli, seakan mereka ingin mengambil berkah dari santri yatim tahfidzul qur’an,” pungkasnya.

Dengan kejadian ini, Amin menyampaikan perlunya ketelitian para petugas handling dari travel umrah. Jangan sampai karena satu kecerobohan yang sangat sederhana saja bisa mengakibatkan masalah yang besar. (ab/ab).


Scroll to Top