Lompat ke isi utama
x

Alumni Petugas Haji DIY Terbitkan Buku  ‘Sejuta Kenangan Haji: Amazing Journey’ 

diy

Yogyakarta (PHU)—Masa pandemi Covid19 tidak menyurutkan para alumni petugas haji asal D.I. Yogyakarta (DIY) untuk terus berkarya. Di sisi lain, pemerintah Indonesia membatalkan keberangkatan jemaah haji tahun ini. Tentu sebagian jemaah haji kecewa, namun kesehatan dan keselamatan ummat tetaplah yang utama. 

“Haji memang ibadah yang spesial, lain dari yang lain. Ia memerlukan tidak saja kekuatan fisik, namun juga berbiaya besar, kesediaan meninggalkan keluarga di Tanah Air, kekuatan batin dan sejumlah elemen lainnya,” kata Ketua Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PW FKAPHI) DIY dr. Tejo Katon melalui pesan singkatnya. Senin (12/10).

Disaat pandemi itulah, Ia mengajak diskusi Sekretaris PW FKAPHI DIY, Bramma Aji Putra yang juga sebagai Humas Kanwil Kemenag DIY, ia menemukan sebuah buku lawas tentang haji di Perpustakaan Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. Judulnya: Haji Sebuah Perjalanan Air Mata. Digarap oleh duo editor andal: Mustofa W. Hasyim dan Achmad Munif. Keduanya wartawan senior. Nama yang disebut terakhir adalah dosen Bram sapaan Bramma  Aji Putra saat menempuh strata satu di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga. 

“Selain wartawan, ia adalah novelis. Dan kini sudah wafat, semoga segala ilmu menjadi jariyah beliau,” terangnya.

Buku setebal 241 halaman itu, kata Tejo berisi pengalaman beribadah haji dari 30 tokoh. Mulai dari tokoh agama, militer, budayawan, arsitek, penyanyi, pelukis, wanita karier, bintang film, sutradara dan sebagainya. Secara tampilan fisik, buku ini tidak begitu menarik. Namun, kalau dibaca tiap lembar, buku terbitan tahun 1993 ini seolah memiliki ruh. 

Ruh inilah yang kemudian mendorong kami untuk menginisiasi penerbitan buku berjudul ‘Sejuta Kenangan Haji: Amazing Journey’,” lanjutnya.

Menurutnya, buku ini berisi pengalaman dan kenangan saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Baik sebagai petugas ataupun jemaah haji. Apalagi bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci. Pasti banyak kenangan tak terlupa. Bahkan cara untuk bisa mendaftar haji pun beraneka rupa. Misalnya, kisah bertekad haji dengan menabung Rp 1.500 tiap hari. Ya, 1.500 perak! Apakah mungkin bisa berhaji? Ada pula kisah keluarga muda yang nekat menjual mobil kesayangan untuk membayar ongkos haji. Ada juga lainnya, naik haji menggantikan kedua kakak untuk menemani orangtua. Dan masih banyak lainnya.

“Berjuta kisah dan sejumput ingatan serta pengalaman itulah yang ingin diabadikan dalam buku ini. Setidaknya menjadi dokumentasi bagi para penulis dan masing-masing keluarga. Terlebih syukur-syukur jika bermanfaat bagi masyarakat luas,” terangnya.

Menyajikan 44 kisah pengalaman saat naik haji. Banyak tips dibeberkan dalam buku setebal 412 halaman ini agar diri semakin mantap dan mendapat kemudahan untuk mendaftar; amalan lahir-batin saat jalani prosesi haji; juga tips mudah mencium hajar aswad. Ada pula strategi memasuki Raudlah nan mustajab di Masjid Nabawi; dan puluhan pengalaman batin yang tak terbayangkan sebelumnya.

“Pengalaman yang original, khas, intim dan dekat dengan kita. Membaca buku ini membuat kita seolah-olah hadir tepat di depan Ka’bah,” ujarnya.

Dirinya berharap, penerbitan buku ini adalah apresiasi yang luar biasa yang harus dijaga, karena ditulis dengan testimoni dari pelaku langsung, ia juga berpesan agar bermunculan buku-buku inspiratif lainnya dari pengurus wilayah FKAPHI diseluruh Indonesia.

“Ini sebuah prestasi luar biasa yg harus kita jaga, dengan testimoni dari pelaku langsung, saya yakin jamaah haji maupun masyarakat yg masih antri menunggu giliran berangkat akan semakin rindu untuk datang ke tanah suci. Dan semoga buku-buku FKAPHI ini akan segera bermunculan di seluruh pelosok tanah air, sehingga nama FKAPHI semakin dekat di hati masyarakat.

 

Penulis
husni anggoro
Editor
husni anggoro