Lompat ke isi utama
x

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri : Calon Jemaah Haji Wafat Bisa Diganti Ahli Waris

Direktur Penyelenggaraan Haji Dalam Negeri

Surabaya (PHU) --- Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Muhajirin Yanis mengatakan jemaah haji yang wafat sebelum berangkat ke  tanah suci, bisa digantikan oleh ahli waris yaitu anggota keluarganya. Calon jemaah haji pengganti harus mengajukan surat permohonan tertulis ke kantor Kementerian Agama kabupaten/kota setempat dengan melampirkan surat keterangan kematian calon jamaah haji yang digantikan. 

Muhajirin mengatakan untuk pelimpahan porsi suami bisa yang mengganti istri, saudara kandung, dan anak kandung.

“Pelimpahan porsi bisa dilakukan jika jemaah haji wafat dan sakit permanen, berlaku satu kali pelimpahan,” imbuh alumni S3 UIN Makasar ini. Verifikasi dilakukan di Kankemenag Kab/Kota, kemudian Kanwil dan selanjutnya ke Direktorat Pelayanan Haji Dalam Negeri, jemaah haji pengganti diberangkatkan sesuai dengan waktu keberangkatan jemaah haji yang wafat atau sakit permanen, prosedur pelunasan jemaah haji pelimpahan no porsi seperti pelunasan jemaah haji reguler.

Peserta Kebijakan Pelayanan Haji Dalam Negeri

Muhajirin Yanis menjelaskan pembatalan haji reguler, jemaah haji mengajukan permohonan pembatalan ke Kemenag kab/kota, konfirmasi batal dilakukan oleh Kankemenag kab kota langsung ke subdit pendaftaran Ditjen dalam negeri dengan tembusan kepada kanwil Kemenag propinsi, sedang pengembalian dana setoran BPIH ditransfer langsung ke rekening jemaah haji melalui BPS/BPIH tempat mendaftar oleh Badan pengelola keuangan haji (BPKH).

Tentang batasan sakit permanen, Muhajirin Yanis mengatakan jemaah yang punya resiko tinggi diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan no 15 tahun 2016 tentang istitha’ah kesehatan jemaah haji, pasal 13 meliputi penyakit yang mengancam jiwa (penyakit paru kronis, gagal jantung stadium 4, gagal ginjal kronis, Aids stadium 4, stroke) gangguan jiwa berat, penyakit yang sulit diharapkan kesembuhannya (kanker stadium akhir, sirosis stadium akhir).

"Pendaftaran jemaah haji  diprioritaskan bagi yang belum berhaji, bagi yang sudah berhaji dapat mendaftar setelah 10 tahun dan umur minimal jemaah haji berusia 12 tahun," ucap  Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Muhajirin Yanis saat memberikan materi Kebijakan Pelayanan Haji Dalam Negeri dihadapan peserta Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Angkatan III di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (19/2020) secara virtual.

Muhajirin Yanis  mengatakan Penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas nasional yang menyangkut harkat martabat dan nama baik bangsa. Oleh karena itu, Kementerian Agama mengharapkan partisipasi seluruh komponen bangsa untuk menyukseskan.

Peserta Kebijakan Pelayanan Haji Dalam Negeri

“Haji itu tugas nasional, Kemenag mengkoordinasikan, yang melibatkan banyak pihak, ada sembilan elemen yang ikut berpartisipasi dalam suksesnya pelaksanaan ibadah haji,” ujarnya. 

Diantara elemen tersebut adalah Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (paspor), TNI/Polri, BPKH dan masyarakat. “Maka dari itu diperlukan koordinasi yang baik,” imbuhnya.

Menurut mantan Kakanwil Kemenag Gorontalo ini, ada beberapa peningkatan pelayanan dalam negeri yang sudah dan tengah dilaksanakan, diantaranya dibangunnya PLHUT di berbagai kabupaten/kota untuk memudahkan jemaah dalam pengurusan pendaftaran dalam satu tempat. Lalu pembentukan kloter berbasis wilayah, jemaah berkumpul di satu tempat sehingga jemaah memiliki psikologi yang cukup kuat untuk melaksanakan ibadah haji dengan tenang dan ada pengembangan revitalisasi bangunan asrama haji.

“Termasuk di Surabaya, sudah dibangun gedung baru standar hotel bintang 3,” ungkapnya.

Muhajirin Yanis mengatakan dinamika penyelenggaraan haji selalu ada karena mengelola banyak uang, melibatkan banyak pihak, mengelola banyak orang, beragam strata dan budaya, dilaksanakan pada satu tempat dan satu waktu, dilaksanakan di negeri orang dengan perbedaan bahasa, budaya dan iklim.

Penulis
Laidia Maryati
Editor
Boy Azhar

Jumlah Pembaca