Lompat ke isi utama
x

Meneropong Haji Melalui Umrah Masa Pandemi

umrahbram

Portal berita Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI pada Senin 5 Oktober 2020 lalu mengabarkan berita menyejukkan: Kemenag Optimis, Indonesia Dapat Izin Umrah dari Arab Saudi. Berita ini berasal dari kegiatan Jagong Masalah Umrah dan Haji (Jamarah) yang digelar Bidang PHU Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. 

Dirjen PHU Kemenag RI Prof. Nizar Ali yang tampil sebagai narasumber pada kesempatan itu menjelaskan ada tiga tahap pembukaan umrah yang dijalankan oleh Saudi di masa pandemi ini.

Pertama, mengizinkan warga negara Saudi dan ekspatriat yang tinggal di sana (mukimin) untuk menunaikan ibadah umrah mulai 4 Oktober 2020. Tahap ini hanya diisi 30 persen dari kapasitas Masjidil Haram atau 6.000 jemaah umrah per hari. Hal ini sesuai hitungan protokol tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 yang dilakukan Kementerian Kesehatan Saudi. Kedua, mulai 18 Oktober 2020 bertambah menjadi 75 persen dari kapasitas Masjidil Haram atau 15 ribu jemaah umrah dan 40 ribu jemaah salat per hari. Juga masih sama berlaku hanya untuk warga negara Saudi dan mukimin.

Ketiga, mengizinkan ibadah umrah bagi warga Saudi, mukimin dan warga dari luar Saudi. Tahap ketiga ini rencananya akan dimulai pada 1 November 2020, dengan bertambah menjadi 100 persen kapasitas Masjidil Haram sesuai hitungan protokol pencegahan, yaitu 20 ribu jamaah umrah per hari dan 60 ribu jemaah salat per hari.

Pihak Kemenag pun melakukan analisis apakah Indonesia diperbolehkan memberangkatkan jemaah umrah pada 1 November 2020? Jawabannya iya. Optimis. Pasalnya sejauh ini, Indonesia tidak termasuk negara yang dilarang berkunjung ke Saudi untuk bisnis maupun urusan diplomatik. Sementara ada tiga negara yang dilarang yakni India, Brasil dan Argentina. Menurut Saudi, ketiga negara ini dinilai kurang komprehensif dalam menangani Covid-19.

 

Bagaimana dengan Haji?

Menariknya, pembukaan umrah tahap ketiga ini akan menjadi indikator boleh/tidaknya Indonesia kelak memberangkatkan jemaah haji musim 2021. Paling tidak ada dua skenario yang mengemuka. Jika vaksin Covid-19 sudah ditemukan dan dapat diproduksi massal pada awal 2021, maka pemberangkatan haji sangat mungkin kembali seperti normal seperti sebelum musim pandemi. Kita tahu, pada musim haji 2019, Indonesia mendapatkan total kuota 231 ribu jemaah, jumlah terbesar sedunia. 

Skenario kedua, vaksin belum ditemukan atau sudah ditemukan tapi belum dapat diproduksi dan digunakan secara massal. Jika ini yang terjadi maka tidak menutup kemungkinan jumlah jemaah haji tahun depan sama dengan tahap ketiga pembukaan umrah ini yakni: 20 ribu jamaah. Itu pun dibagi untuk seluruh negara di dunia. Namun apapun itu kita wajib bersyukur.

Kita ingat kaidah ushul fiqh: ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu (apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak boleh ditinggalkan semuanya); juga salah satu konsep maqashid syari’ah (tujuan bersyariat) yang salah satunya adalah hifdzun nafs (menjaga nyawa). Maka jika pembatasan yang terjadi, semua pihak kudu legawa sebab menjaga nyawa merupakan kewajiban tiap mukmin.

Menjadi ‘PR’ bersama antara pemerintah dan masyarakat khususnya pihak Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) adalah bagaimana menjaga kedisiplinan jemaah umrah seandainya Indonesia diperbolehkan mengirim mulai 1 November nanti. Pihak Saudi telah mengumumkan bahwa prosesi umrah masa pandemi ini memang spesial. Misalnya saja sebelum berangkat, jemaah melalui pihak travel wajib mengisi aplikasi guna database tracing Covid-19. Selama umrah tiap jemaah dibatasi hanya 3 jam berada di Masjidil Haram. Bahkan, Saudi memberlakukan aturan boleh umrah lagi selang 14 hari. Artinya biro umrah di Indonesia yang biasanya memberangkatkan jemaah dalam durasi 9-11 hari mesti pandai mengelola waktu.

Pendek kata, kedisiplinan jemaah umrah pada tahap ketiga ini menjadi kunci. Jika berlangsung sukses maka sungguh merupakan titik terang pemberangkatan haji pada tahun depan. Jika sebaliknya, bukan mustahil Saudi menutup rapat pintu masuk ke negaranya. Tak ada pilihan lain kecuali tetap bersabar dan berdoa. 

 

Bramma Aji Putra

Pranata Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY

Sekretaris PW Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (FKAPHI) DIY

MCH Daker Makkah Musim Haji 2018

Penulis
Bramma Aji Putra
Editor
husni anggoro