Lompat ke isi utama
x

Menilik WNI Berhaji di Masa Pandemi

rahmat

Jakarta (PHU)—Menunaikan Haji merupakan cita-cita bagi semua umat Islam, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Kini sudah 2 tahun dari tahun 2020 hingga 2021 Indonesia tidak mengirimkan Jemaah hajinya ke Tanah Suci dikarenakan pandemi Covid-19 yang belum mereda diseluruh dunia.

Dari kuota 60 ribu jemaah, sebanyak 327 orang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Arab Saudi. WNI yang beruntung melakukan ibadah haji tahun ini terdiri dari diplomat, ekspatriat Indonesia, mahasiswa, dan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Jemaah haji asal Indonesia 2021, Rahmatullah Mardani, menceritakan terpilihnya dia sebagai salah satu jamaah haji asal Indonesia tahun ini yang diseleksi secara daring. Seleksi pertama dilakukan pada calon jemaah berusia lanjut (lansia), setelah itu baru kelompok umur di bawahnya.

Rahmat sapaan akrabnya, salah seorang WNI yang kesehariannya bekerja sebagai local staf di Konsulat Jenderal Republik Indonesia Jeddah ini merasa beruntung karena terpilih menjadi salah satu orang dari 60ribu Jemaah haji yang mengikuti ibadah haji tahun 2021 ini. Seperti diketahui Pemerintah Arab Saudi tahun ini, kuota dibatasi hanya 60.000 jemaah, serta dikhususkan bagi warga Saudi dan ekspatriat yang sudah menetap di sana.

Mengawali cerita, ketika Pemerintah Arab Saudi akan membuka ibadah haji tahun 2021 ini, ia bersama teman-teman mukimin (orang yang telah menetap di Saudi) mulai memperbicangkan bagaimana caranya bisa berhaji.

Ia pun akhirnya mengutarakan niat berhajinya kepada istrinya, namun disisi lain ia pesimis bakal ditolak oleh Pemerintah Arab Saudi, tapi sang istri menguatkan niatnya sehingga mereka berdua mendaftarkan diri.

“Kemudian tanggal 13 Juni mengumkan pembukaan haji untuk mukimin lalu saya mendaftar lah di localhaj.haj.gov.sa. bersama dengan istri saya,” kata Rahmat saat hadir dalam Reportase bersama jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) melalui daring. Senin (19/07/2021).

Tahap pertama yang mereka lalui adalah mendaftarkan diri secara daring dengan memasukkan data-data diri termasuk nomor igomah (Semacam nomor KTP), setelah diverifikasi ternyata hanya dia yang lolos seleksi yang diumumkan melauai SMS, sedangkan sang istri tidak lolos dikarenakan sudah berhaji 3 tahun yang lalu.

“Kita daftar sama istri melalui Kementerian Haji Saudi dengan memasukkan nomor igomah saya, ternyata nomor igomah saya diterima Sedangkan istri saya tidak diterima karena sudah berhaji 3 tahun yang lalu, hasil seleksinya lewat SMS bahwa anda mendapat verifikasi,” terangnya.

Salah satu persyaratan utama calon Jemaah haji, kata Rahmat adalah surat keterangan bebas Covid-19 atau sudah menjadi penyintas yang disertakan surat kesehatan resmi dari RS Pemerintah Arab Saudi atau sudah divaksinasi.

Setelah mendapatkan pengumuman lolos seleksi, ia langsung berikan waktu untuk membayar paket biaya haji yang sudah ditetapkan Pemerintah Saudi. Rahmat mengatakan paket biaya haji yang harus dibayar pada tahun ini sekitar 13.930 riyal atau sekitar Rp53 juta. “Syaratnya juga setiap jamaah sudah melakukan vaksin kedua dan jamaah baru diberi arahan H-2 ibadah haji terkait titik kumpul untuk melakukan ibadah haji,” ucapnya.

“Setelah itu saya dikasih waktu 12 jam untuk menyelesaikan pembayaran paket biaya haji dan memenuhi syarat vaksinasi hingga dosis ke-2, karena kalau tidak secara otomatis akan gugur,“ ujarnya.

Pada penyelenggaraan haji tahun ini calon jemaah haji diwajibkan membayar sendiri paket-paket yang sudah disediakan Pemerintah Arab Saudi. Paket layanan penyelenggaraan haji itu diantaranya adalah Paket VVIP/Tower Alburj Mina dengan harga 20ribu Riyal (sekitar Rp. 80juta). Paket kedua adalah paket VVIP tenda dengan harga paket 15ribu Riyal. Serta paket ketiga adalah Paket paling murah dengan harga paket sekitar 14ribu Riyal (Rp. 53juta).

Setelah melakukan pembayaran dan vaksinasi, akhirnya ia mendapatkan Tasreeh (surat izin) untuk melengkapi persyaratan berikutnya yakni vaksin influenza dan meningitis. “Kebetulan umur saya sudah tua pak jadi diwajibkan,” candanya.

Usai memenuhi seluruh persyaratan, ia pun dihubungi pihak travel (muasassah) dan meminta izin untuk dimasukkan kedalam grup Whatsapp yang anggotanya adalah Jemaah haji dan disarankan untuk isolasi mandiri sebelum mendekati hari H.

“Di WA grup itulah kami komunikasi dengan muassasah dengan memberikan petunjuk bahwa kamu sudah diterima Haji tolong jaga diri, kalau bisa isolasi mandiri,” jelas Rahmat.

Rahmat yang juga bekerja di bidang Imigrasi KJRI ini menuturkan, setelah dirinya melakukan isolasi mandiri, pihak Muasassah mengirimkan SMS dengan mengabarkan bahwa titik kumpul akan dilaksanakan tanggal 7 Dzulhijjah didaerah Faisaliyah pukul 23.00 – 02.00 dini hari Waktu Arab Saudi.

“Setelah itu tiba-tiba dikasih SMS lagi bahwa meeting pointnya nanti tanggal 7 (Dzilhijjah) ya kamu datang ke gedung di daerah Faisaliah jam 11 malam kumpul sampai dengan jam 2 dini hari. Sebelumnya saya juga survei dulu tempatnya di mana sebelum berangkat, oh ternyata di dekat Aziz Mall Jeddah,” tuturnya.

Titik kumpul terdapat di 4 daerah antara lain Al Hada (Thaif), As Syara’i, An Nawariyah Jeddah dan yang terakhir adalah Hamra khusus untuk penduduk Makkah. Bagi diluar penduduk Makkah mereka diarahkan langsung untuk melaksanakan Tawaf Qudum setelah itu langsung didorong ke Mina untuk melaksanakan Tarwiyah untuk selanjutnya dirahkan ke Arafah untuk puncak haji, Muzdalifah, Mina untuk bermalam dan lontar jumrah.

Penulis
husni anggoro
Editor
husni anggoro

Jumlah Pembaca