Lompat ke isi utama
x

Reformasi Pembinaan Haji, Dirbina Haji : Pembinaan Jemaah Gunakan Sistem Klaster

Dirbina

Jakarta (PHU)—Direktorat Bina Haji Kementerian Agama terus melakukan inovasi-inovasi dalam melaksanakan pembinaan kepada jemaah haji. Salah satu inovasi ya=ng dilakukan adalah melakukan reformasi sistem dan reformasi program pembinaan.

Direktur Bina Haji Khoirizi H. Dasir mengatakan reformasi pembinaan jemaah ini dilakukan melihat saat ini pembinaan selalu menggunakan manasik massal, sehingga sangat sulit dievaluasi.

“Melaksanakan apa seperti sekarang ini itu sangat sulit karena kita selalu menggunakan manasik secara massal yang ada di situ yang bisa ngaji ada di situ, yang enggak bisa ngaji ada di situ yang pintar ada di situ yang enggak ada di situ kita sangat sulit melakukan evaluasi,” kata Khoirizi saat Webinar Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) secara virtual yang digagas Subdit Advokasi Haji Ditbina Haji. Sabtu (24/10).

Untuk itu, kata Khoirizi, pihaknya melakukan reformasi sistem dan reformasi program. Ia melihat saat ini sistem pembinaan menasik haji masih belum terpola dengan baik, sehingga KUA dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) saling berebut melaksanakan bimbingan manasik.

“Kita melakukan reformasi, reformasi sistem dan reformasi secara program, secara sistem banyak sistem manasik yang gak terpola, satu sisi UU mengamanahkan pembinaan manasik itu kepada KBIHU, tapi disisi lain KUA juga melaksanakan manasik padahal jemaahnya itu-itu juga lalu bagimna sekarang?,” tanya Khoirizi.

Ia berharap, KUA kedepannya tidak hanya sebagai operator manasik tapi juga bertindak sebagai koordinator yang dibawahnya ada KBIHU, tenaga sertifikasi, alumni petugas haji, penyuluh, tokoh masyarakat dan Kyai sehingga bisa mngendalikan, me-manage, dan mengawasi para pemangku kepentingan di kecamatan. Begitu juga sengam KBIHU, KBIHU juga diminta untuk berkoordinasi dengan KUA dalam setiap melaksanakan bimbingan manasiknya.

“KUA harus bersinergi untuk melaksanakan manasik jni dengan satu tujuan dalam rangka memandirikan jemaah yang memiliki ketahanan itu adalah amanat undang-undang,” terangnya.

“Jika hubungan baik itu sudah terbangun, tidak akan ada lagi rebutan jemaah antara KUA dengan KBIHU, begitu juga sebaliknya KBIHU jangan berdiri sendiri seakan-akan tidak ada yang mengkoordinir, begitu KBIH melaksanakan manasik KUA tidak pernah diberitahu,” ujar Khoirizi.

Kalau itu sudah dibangun, lanjut Khoirizi, maka sistem manasik akan otomatis tersistem, Ia juga meminta pembinaan manasik dibuat sistem klaster, jemaah haji yang pengetahuan ibadah hajinya masih dasar tidak digabung manasiknya dengan jemaah haji yang pengetahuan manasik yang sudah ahli, sehingga nantinya pembinaan tersebut bisa dievaluasi dan dipetakan. 

“Kalau itu sudah dibangun sejak awal maka sistem manasik kita tersistem. Maka dari itu ada sistem pengklasteran, ini jemaah yang mengajinya berbata-bata dan ada yang sudah bisa ngaji, ini klaster yang pendidikannya SMP kebawah, dan yang satunya lagi klaster SMA keatas, ini klasternya jemaah haji muda dan klaster jemaah haji orang tua. Ketika itu kita klasterkan itu bisa kita evaluasi dan bisa dipetakan, masa 9 bulan cukup kita lakukan evaluasi dan pembinaan,” tandasnya.

Penulis
husni anggoro
Editor
husni anggoro