Penuhi Undangan Tabung Haji Malaysia, Dirjen PHU Sampaikan Dua Pesan Penting

25 Okt 2023 oleh Mustarini Bella Vitiara | dilihat 423816 kali

Kuala Lumpur (PHU) --- Ada dua pesan penting yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Hilman Latief saat menghadiri Forum Perdana “Ibadat yang Sahih Asas Kemabruran Haji” di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (24/10/2023).

Pertama adalah terkait prinsip istithaah pada Jemaah Haji, khususnya istithaah kesehatan. Dikatakan Hilman, pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, ada ribuan Jemaah Haji yang sakit sesampainya di Tanah Suci, sebagian juga dilaporkan wafat. Oleh karena itu, Kementerian Agama, dalam hal ini Ditjen PHU, sedang mengkaji lebih dalam terkait penerapan istithaah kesehatan bagi seluruh Jemaah Haji.

“Hari ini, pada forum Mudzakarah Perhajian Nasional di Tanah Air, kami sedang membahas istithaah kesehatan, bagaimana Jemaah Haji nantinya tidak berhak melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji sebelum melaksanakan tes kesehatan dan dinyatakan layak terbang. Insya Allah tahun depan istithaah kesehatan akan menjadi kebijakan yang penting,” ujar Hilman di hadapan para peserta forum.

Kedua, sambung Hilman, adalah bagaimana ibadah haji ini dapat menebar manfaat tidak hanya bagi jemaah sendiri tetapi juga lingkungan sekelilingnya. Hilman kemudian mengutip QS. Al-Hajj Ayat 27-28 yang artinya:

Umumkanlah kepada manusia agar mereka melaksanakan ibadah haji. Maka mereka akan datang dengan berjalan kaki dan juga menggunakan unta-unta yang kurus. Mereka akan datang dari setiap penjuru. Di antara tujuannya adalah agar mereka memperhatikan dan menyaksikan manfaat-manfaat yang akan kembali kepada mereka.

“Dalam konteks ini, kami ingin menekankan kepada manfaat-manfaat dalam penyelenggaraan ibadah haji sendiri. Manfaat ini berupa spiritualitas dan persaudaraan sesama Jemaah Haji, serta manfaat lainnya berupa profit (ekonomi) dan juga sosial-kemanusiaan. Ini juga mengindikasikan bahwa pelaksanaan haji adalah ibadah multidimensi,” terang Hilman.

Pada kesempatan yang sama, pria lulusan Universitas Utrecht Belanda ini menyebutkan bahwa Jemaah Haji di Indonesia memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Keberagaman ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan bimbingan manasik kepada jemaah di Tanah Air.

“Jemaah kita banyak dari seluruh penjuru Indonesia, dari latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Sehingga untuk itu, dalam mengeluarkan buku untuk manasik contohnya, kami menyesuaikan dengan tingkat literasi masing-masing kelompok jemaah, ada yang dibikin tebal dan ada juga yang tipis,” kata Hilman.

Panduan manasik yang dikeluarkan, lanjutnya, juga mempertimbangkan kelompok orang tua atau Jemaah Haji lanjut usia (lansia).

“Ini berdampak pada fikih haji kedepannya, bagaimana yang kita terapkan. Inilah yang sedang kami diskusikan di Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri, contohnya bagaimana pelaksanaan mabit di Muzdalifah, bagaimana penggunaan toilet di Armuzna, dan lain-lain,” sebut Hilman lagi.

“Ada banyak aspek yang sedang kami dalami, dalam hal ini kami sebut moderasi manasik haji. Artinya bagaimana mabrur ini dapat diraih oleh Jemaah Haji dengan memberikan kemudahan-kemudahan, terutama kepada lansia,” tandasnya.

Forum yang diselenggarakan secara hybrid (luring dan daring) ini merupakan salah satu rangkaian dari Sempena Muzakarah Haji Peringkat Kebangsaan Kali ke-40 Musim Haji 1445H oleh Lembaga Tabung Haji (TH) Malaysia bekerjasama dengan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (LTH-JAKIM). Hadir sebagai panelis bersama Dirjen PHU, Mufti Wilayah Persekutuan, Datuk Hj. Luqman Abdullah serta Penasehat Dewan Pusat Islam Thailand Muhammad Amin Chenu.

“Dengan forum ini, kami harap dapat saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman terkait isu-isu haji dengan rekan-rekan dari negara serumpun, yakni Indonesia dan Thailand,” pungkas Datuk Hj. Luqman Abdullah.

Turut hadir, Direktur Eksekutif Tabung Haji Malaysia Dato' Sri Syed Saleh Syed Abdul Rahman Mufadhal dan Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri pada Ditjen PHU Subhan Cholid.